Melirik Tambang Emas di Bisnis Iklan (Bag. 1)


26 Nov 2014

Selama ini kita melihat operator telekomunikasi sebagai salah satu penyumbang terbesar dalam industri periklanan di Tanah Air. Di tengah tekanan untuk terus menambah pundi-pundi keuangannya, operator pun mulai berbalik ingin memangsa industri pariwara ini.

Tentu masih segar di ingatan kita, sekitar 3-5 tahun lalu saat perang tarif mencapai puncaknya, spot premium baik di televisi, media cetak, maupun media luar ruang, dijejali dengan iklan-iklan operator yang saat itu berlomba menjadi yang paling murah. 

Jor-joran iklan yang sudah pasti melibatkan uang dalam jumlah besar, baru mulai mereda sekitar dua tahun terakhir, ketika para operator tersebut mulai merasakan dampak dari fenomena 'dumb pipe' dari para pemainover-the-top (OTT) yang secara langsung mengancam eksistensi seluruh operator di dunia.

Dengan latar belakang seperti itu, maka menjadi menarik manakala menyaksikan dalam beberapa hari terakhir, setidaknya dua operator besar mulai mencoba masuk ke dalam bisnis periklanan dengan memperkenalkan platform mobile advertising mereka. 

Mekanisme penayangan iklan yang digunakan masih cukup sederhana, yaitu saat kita hendak membuka sejumlah situs populer, terlebih dahulu kita akan 'dipaksa' untuk melihat satu halaman iklan dengan diiming-imingi penawaran 'halaman yang Anda tuju adalah halaman bebas biaya GPRS'.

Langkah operator untuk mencoba mengambil jatah dari kue bisnis iklan, sepertinya menjadi salah satu jurus untuk mencari sumber pendapatan baru di saat terus tergerusnya pendapatan dari bisnis jaringan.

Di tahun 2012 saja, nilai uang yang berputar di industri periklanan Tanah Air berada di kisaran Rp 85 triliun, dimana 65 persennya dinikmati oleh televisi. 

Sebetulnya, sejak beberapa waktu belakangan, sejumlah operator telekomunikasi sudah mencoba untuk masuk ke bisnis ini melalui SMS iklan yang dikirimkan ke sejumlah pelanggan berdasarkan lokasi, seperti saat kita memasuki sejumlah mal kelas atas di Jakarta. 

Hanya saja, karena SMS spam sudah menjadi penyakit kronis di negeri ini, maka SMS iklan yang dikirimkan dengan mekanisme location based itu tampaknya menjadi sangat tidak efektif. Karena itu, keputusan untuk memasuki bisnis iklan melalui mobile advertising sepertinya merupakan sebuah langkah yang menjanjikan. 

Sebuah firma analis di Amerika Serikat baru-baru ini merilis data bahwa telah tejadi pergeseran dari efektivitas penempatan iklan di berbagai media. 

Efektivitas iklan melalui televisi pelan-pelan sudah bergeser ke arah media digital, meskipun saat ini 85% anggaran iklan masih diserap oleh televisi, sementara iklan online hanya menerima 4 %, tapi ternyata tingkat konversi dari iklan online ini mencapai 25% dari total pembelian yang terjadi. 

Fenomena yang terjadi di AS ini diyakini tidak lama lagi akan juga sampai di negara kita. Apalagi dengan semakin tingginya penetrasi internet ke seluruh pelosok yang sedang digeber oleh Kementerian Kominfo. 

Sehingga, kehadiran operator telekomunikasi dalam menyajikan iklan mobile ini juga bisa dipandang sebagai serangan frontal kepada para pemain OTT yang selama ini mendominasi kue iklan online

PT Codephile Rekadaya Mandiri

Gedung Nindya Karya, Lt 4 R.407
Jl. Letjen MT Haryono Kav 22
Jakarta 13630 - Indonesia
Telp : 021 8087 3300

Email: info@codephile.com