Internet of Things: Good or Evil? (Bag.1)


26 Nov 2014

Bayangkan, sebuah skenario dimana saat kita bangun tidur dengan memulai ritual pagi di kamar mandi. Sesudahnya, toilet canggih kita secara otomatis menampilkan data kimiawi tubuh di kaca wastafel tempat kita menggosok gigi. 

Lalu berdasarkan analisa historis jika ada yang tidak normal serta-merta menampilkan berbagai rekomendasi terkait diet makanan yang harus dikonsumsi, olahraga yang harus dilakukan, atau bahkan langsung menghubungi rumah sakit/dokter untuk membuat janji pemeriksaan jika dibutuhkan. 

Sesudah berolahraga pagi sesuai petunjuk dari smartwatch yang memonitor aktivitas dan irama detak jantung, bel di pintu depan rumah berbunyi. 

Petugas delivery dari supermarket langganan mengirimkan belanjaan kebutuhan sehari-hari yang ternyata sudah dipesan oleh kulkas kita malam sebelumnya. Tentu saja pembayarannya sudah dilakukan otomatis melalui kartu kredit/debit. 

Selesai dengan semua rutinitas pagi hari, kita melangkah memasuki mobil. Dan cukup dengan perintah suara, mobil yang menggunakan teknologi autonomous driving akan membawa kita ke kantor. 

Sementara kita membaca berita dan berinteraksi di media sosial melalui layar hologram yang diproyeksikan di kaca mata kita. Pagi yang sempurna.

Skenario diatas yang biasanya muncul di film-film scienfe fiction, bisa jadi akan menjadi pemandangan umum sebentar lagi. Perkembangan teknologi wearable devices, embedded chips dan komunikasi machine-to- machine (M2M) telah membuka jangkauan internet menjadi begitu luas.

Tidak lagi terbatas pada komputer atau tablet, tapi juga menjangkau semua perangkat yang memiliki embedded chips di dalamnya dan memiliki IP address. Inilah yang sering disebut-sebut dengan jargon: Internet of Things (IoT).

The Goods 

Bagi masyarakat umum, kehadiran Internet of Things menjanjikan berbagai kemudahan. Tentu saja skenario bangun pagi di atas hanya sebagian kecil dari manfaat IoT. Dengan berbagai sensor yang tersebar mulai dari kendaraan, traffic light, gardu tol dan lain-lain yang dikontrol melalui Traffic Monitoring Center (TMC), memungkinkan lalu lintas yang bebas macet menjadi kenyataan. 

Dari sisi perbankan, internet of things menjanjikan terwujudnya cashless society, karena transaksi keuangan akan beralih ke moda digital. Bahkan, mungkin kita tidak lagi perlu membawa berbagai kartu debit/kredit, karena berbagai informasi keuangan itu sudah ditanam di dalam chip di pergelangan tangan kita.

Pergerakan barang pun akan semakin efisien, karena proses sejak barang datang di pelabuhan, proses bongkar muat hingga pengiriman ke tujuan akan termonitor dengan presisi. Konsekuensi logisnya, biaya logistik akan turun dan dalam skala besar tentu akan meningkatkan daya saing ekonomi kita.

Dari sisi keamanan, internet of things juga menjanjikan banyak hal. Para residivis misalnya bisa di-tag dengan chip khusus, demikian juga dengan para predator seks, sehingga aparat keamanan bisa memonitor pergerakan mereka ini dan melakukan intervensi jika diperlukan. 

Mencegah tentu lebih baik dari pada mengobati, prinsip itu bisa menjadi kredo utama dalam peningkatan rasa aman masyarakat. Masih banyak lagi kemudahan-kemudahan yang dijanjikan oleh hadirnya internet of things dalam kehidupan kita ini nantinya.

PT Codephile Rekadaya Mandiri

Gedung Nindya Karya, Lt 4 R.407
Jl. Letjen MT Haryono Kav 22
Jakarta 13630 - Indonesia
Telp : 021 8087 3300

Email: info@codephile.com